Jangan Kecewakan Pelanggan Anda

Kenapa kita harus menjaga "kepuasan" dari pelanggan kita? Karena jika mereka kecewa, maka itu akan menjadi sebuah virus yang menyebar dan akan membuat buruk reputasi dan nama usaha kita.

Jadilah Pelita

Pada suatu malam, seorang buta berpamitan pulang dari rumah sahabatnya. Sang sahabat membekalinya dengan sebuah lentera pelita. Orang buta itu terbahak berkata: “Buat apa saya bawa pelita? Kan sama saja buat saya! Saya bisa pulang kok.”

Warisan Bangsa Indonesia yang Terlupakan!!!

ob main tebak – tebakan yuk… Saya yang ngasih pertanyaan ya… Ayo kita mulai… Ayo tebak kira – kira siapa saja motivator dunia yang quote nya paling sering dikutip? Entah itu oleh motivator lokal kita kaya mario teguh, andrie wongso bahkan marshanda atau bahkan oleh kita sendiri.

WebQual, Metode untuk Menilai Kualitas Website. Bagaimana bentuknya?

Okeeee… Kita lanjutin pembahasan tentang Web Quality Dimension yuk hari ini. Nah, di hari ini saya ingin menerangkan tentang WebQual.. Wah makanan apaan itu?

Apa Makna Ukhuwah Bagimu Kawan?

Apakah arti kebersamaan dan persaudaraan bagimu kawan? Seperti apakah makna ukhuwah yang kau yakini? Adakah rasa yang tertancap di hati antara kita sama atau justru berbeda?

28 May 2013

Tiada Pernah Ada Kata Berhenti untuk Belajar!



Saya cukup tergelitik untuk membahas suatu quote dari Philip B. Corsby ,” Ada teori tingkah laku manusia yang mengatakan bahwa secara bawah sadar, manusia menghambat pertumbuhan intelektualnya sendiri. Mereka bergantung kepada klise dan kebiasaan. Begitu mereka mencapai usia kenyamanan pribadi mereka sendiri dengan dunia, mereka tidak lagi belajar dan pikiran mereka menganggur selama menjalani sisa kehidupan. Mungkin mereka maju dalam perusahaan, bersemangat dan ambisius, bahkan bekerja keras siang malam. Tetapi mereka tidak pernah belajar.”

Quote ini seketika mengingatkan saya akan fenomena mahasiswa yang memutuskan untuk bekerja dan tidak melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi dengan alasan karena merasa telah lelah belajar. Banyak bukan yang menggunakan alasan ini untuk tidak lagi melanjutkan sekolah atau kuliah? Atau jangan – jangan hal ini juga sempat tercetus dalam benak anda? J

Belajar bukan hanya sekedar seremoni di ruang kelas saat sekolah atau kuliah. Bukan hanya saat ada guru atau dosen yang mengajarkan sesuatu kepada kita. Bukan hanya saat ada tugas yang harus kita kumpulkan keesokan harinya. Tidak kawan, belajar bukanlah sesederhana itu. Belajar itu memiliki arti yang jauh lebih luas.

Dimulai semenjak kita masih di dalam kandungan hingga nanti saat raga dan nyawa berpisah, selama itulah waktu belajar yang kita miliki. Dimulai dari mata ini terbangun dari alam mimpi hingga saat mata ini kembali terpejam, selama itulah proses belajar itu takkan pernah berhenti. Setiap hal yang terlihat oleh mata, setiap sentuhan yang dirasa oleh jari, setiap langkah yang telah ditempuh oleh kaki ini maka sejauh itu pulalah proses belajar ini akan kita lakoni. Sejatinya, tidak akan pernah ada kata berhenti untuk belajar.

Setiap hal baru yang kita temui di kehidupan ini adalah bukti bahwa setiap hari kita tumbuh dan selalu belajar. Semakin banyak hal baru yang kita temui maka semakin cepat akselerasi pembelajaran kita. Semakin banyak hal baru yang kita temui, maka akan semakin capat kita tumbuh. Maka, sejatinya tidak akan pernah ada kata berhenti untuk belajar.

09 May 2013

Apa itu Tarbiyah Dzatiyah?



Tarbiyah Dzatiyah, mungkin belum banyak yang mengetahui secara luas apa yang dimaksud dengan tarbiyah dzatiyah. Nah, oleh karena itu di artikel kali ini saya akan sedikit membahas tentang tarbiyah dzatiyah.
Tarbiyah Dzatiyah ialah sejumlah sarana tarbiyah (pembinaan), yang diberikan orang Muslim, atau Muslimah, kepada dirinya, untuk membentuk keperibadian Islami yang sempurna di seluruh sisinya; ilmiah, iman, akhlak, sosial, dan lain sebagainya, dan naik tinggi ke tingkatan kesempurnaan sebagai manusia. Atau dengan kata lain, Tarbiyah Dzatiyah ialah tarbiyah seseorang terhadap diri sendiri dengan dirinya sendiri.
Oleh karena itu, tarbiyah dzatiyah berbeda dengan tarbiyah jama’iyah (kolektif) yang biasa dilakukan dengan bersama – sama dalam forum – forum umum, seperti ceramah/khutbah di masjid, kajian, dll.
Mengapa kita harus melakukan tarbiyah dzatiyah?
Melakukan Tarbiyah Dzatiyah menjadi hal yang sangat “urgent” bagi setiap muslim, terutama dalam kondisi zaman yang serba kacau balau saat ini, jelas hal ini akan menjadi hal yang sangat penting . Kenapa begitu?
1.   Untuk menjaga diri sendiri
Tarbiyah seorang Muslim terhadapmerupakan suatu upaya untuk melindungi dirinya dari siksa Allah ta’ala dan menghindari neraka-Nya. Tidak diragukan lagi, menjaga diri sendiri itu mesti lebih diutamakan, daripada menjaga orang lain.  Hakikat ini di tegaskan dalam firman Allah ta’ala,
      “Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya
       adalah manusia dan batu.” (At-Tahrim: 6).
      Arti menjaga diri dari api neraka, seperti dikatakan Ibnu Sa’di rahimahullah, ialah dengan mewajibkannya diri mengerjakan perintah Allah ta’ala, menjauhi larangan-Nya, bertaubat dari apa saja yang dimurkai-Nya dan mendatangkan siksa.
       Inilah makna Tarbiyah Dzatiyah dan salah satu tujuannya.
2.   Jika Anda tidak Mentarbiyah  (Membina) Diri Anda, Siapa yang Mentarbiyah Anda?
      Siapa yang mentarbiyah seseorang saat ia berusia lima belas tahun, atau dua puluh tahun, atau tiga puluh tahun, atau lebih? Jika ia tidak mentarbiyah diri sendiri, siapa yang mentarbiyahnya? Atau jika tidak ada pihak lain yang mempengaruhinya? Sebab, kedua orang tuanya secar khusus, atau manusia secara umum berkeyakinan ia telah dewasa, lebih tahu apa yang mendatangkan maslahat bagi dirinya, atau mereka (orang tua dan manusia lainnya) sibuk dengan pekerjaan mereka, hingga tidak punya waktu untuk mengurusinya. Walhasil, jika ia tidak mentarbiyah diri sendiri, ia kehilangan waktu-waktu ketaatan dan moment-moment kebaikan. Hari dan umur terus bergulir, sedang ia gagal mengetahui titik lemah dirinya dan ketidak beresannya. Akibatnya, ia rugi saat kematian menjemput. Allah ta’ala berfirman,
     “(Ingatlah) hari Allah mengumpulkan kalian pada hari pengumpulan.” (At-Taghabun:9). 
3.  Karena pada yaumul mizan nanti kita dihisab sendiri – sendiri
Hisab pada Hari Kiamat oleh Allah ta’ala kepada hamba-hamba-Nya bersifat individual, bukan bersama – sama  (kolektif). Artinya setiap orang kelak dimintai pertanggungan jawab tentang diri dan sepak terjang – nya, baik perbuatan baik atau buruknya, kendati ia mengklaim orang lain menjadi penyebab kesesatan dan penyimpangannya. Kendati ada klaim seperti itu, mereka wajib dihisab bersama dirinya.
     Allah ta’ala berfirman,    “Dan setiap mereka datang kepada Allah pada Hari Kiamat dengan sendiri-sendiri.” (Maryam:95)       
Allah ta’ala berfirman, “Dan setiap manusia telah Kami tetapkan amal perbuatannya di lehernya dan Kami keluarkan baginya       pada Hari Kiamat kitab yang dijumpainya terbuka. Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada wa-       ktu ini sebagai penghisab terhadapmu.” (Al-Isra’ : 13-14)
Disebutkan di hadist bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,      “Setiap orang dari kalian pasti diajak bicara Tuhannya, tanpa penerjemah antara dirinya dengan-Nya.”      (Muttafaq Alaih).
Karena itu, barangsiapa mentarbiyah dirinya, insya Allah, hisabnya diringankan dan ia selamat dari siksa, dengan rahmat Allah ta’ala.
4.   Tarbiyah Dzatiyah itu Lebih Mampu Memberikan Perubahan yang Berarti
      Setiap orang pasti punya aib, atau kekurangan, atau melakukan kelalaian dan maksiat, baik maksiat kecil atau dosa. Jika masalahnya seperti itu, ia perlu memperbaiki seluruh sisi negatif pada dirinya sejak awal, sebelum sisi negatif tersebut membengkak. Dan, seseorang tidak dapat meluruskan kesalahan-kesalahannya, atau memperbaiki aib-aibnya, dengan sempurna dan permanen, jika ia tidak melakukan upaya perbaikan ini, dengan Tarbiyah Dzatiyah, karena ia lebih tahu diri sendiri dan rahasianya. Jika ia menginginkan pembinaan dirinya, ia juga lebih mampu mengendalikan dirinya menuju manhaj tertentu, perilaku utama, dan gerakan yang bermanfaat.
5.   Tarbiyah Dzatiyah adalah Sarana Tsabat (Tegar) dan Istiqamah
      Setelah bimbingan Allah ta’ala, Tarbiyah Dzatiyah adalah sarana pertama, yang membuat orang Muslim mampu tsabat (tegar) di atas jalan iman dan petunjuk, hingga akhir kehidupannya. Tarbiyah Dzatiyah juga garis pertahanan terdepan dalam melawan beragam fitnah dan bujuk rayu, yang menyerang orang Muslim pada zaman dewasa ini dan membujuknya dengan deras untuk menyimpang, gugur (dari jalan dakwah), loyo, malas, merasa takut akan masa depan, dan putus asa akan realitas sekarang. Di aspek ini, perumpamaan arbiyah Dzatiyah ialah seperti phon, yang jika akar-akarnya menancap kuat di bumi, maka pohon tersebut tetap kokoh, kendati terkena angin dan badai.
6.   Sarana Dakwah yang Paling Kuat
      Esensinya, setiap orang Muslim dan Muslimah adalah dai ke jalan Allah ta’ala.ia memperbaiki kondisi yang ada, mengajar, memberi taujih (arahan), dan mentarbiyah. Agar ia diterima manusia, baik sanak kerabatnya atau orang-orang yang jauh darinya, dan mempunyai kekuatan melakukan perbaikan dan perubahan di kehidupan mereka, ia perlu bekal kuat. Dan, cara efektif untuk mendakwahi mereka dan mendapatkan respon mereka ialah ia menjadi qudwah (panutan) yang baik dan teladan istimewa, di aspek iman, ilmu, dan akhlaknya. Qudwah tinggi dan pengaruh kuat tersebut tidak dapat di bentuk oleh sekian khutbah dan ceramah saja. Namun, dibentuk oleh Tarbiyah Dzatiyah yang benar.
7.   Cara yang Benar dalam Memperbaiki Realitas yang Ada
      Adakah di antara kaum Muslimin yang tidak merasa prihatin dengan kondisi yang ada pada umat Islam, di berbagai aspek kehidupan mereka, baik aspek keagamaan, atau ekonomi, atau politik, atau pers, atau sosial, atau aspek-aspek lainnya? Jawabnya, tentu tidak ada. Tapi, bagaimana kiat memperbaiki realitas pahit yang dialamiumat kita sekarang? Apa langkah efektif untuk melakukan perbaikan? Dengan ringkas, langkah tersebut dimulai dengan Tarbiyah Dzatiyah, yang dilakukan setiap orang dengan dirinya, dengan maksimal, syumul (universal), dan seimbang. Sebab, jika setiap individu baik, baik pula keluarga, dengan izin Allah ta’al. Lalu, dengan sendirinya, masyarakat jadi baik. Begitulah, pada akhirnya realitas umat menjadi baik secara total, sedikit demi sedikit.
8.   Karena Keistimewaan Tarbiyah Dzatiyah
Urgensi Tarbiyah Dzatiyah lainnya ialah mudah diaplikasikan, sarana-sarananya banyak, dan ada terus pada orang Muslim di setiap waktu, kondisi, dan tempat, seperti akan dijelaskan kemudian. Ini berbeda dengan Tarbiyah Ammah (pembinaan umum), yang punya waktu-waktu tertentu, atau tempat-tempat khusus.