09 May 2013

Apa itu Tarbiyah Dzatiyah?



Tarbiyah Dzatiyah, mungkin belum banyak yang mengetahui secara luas apa yang dimaksud dengan tarbiyah dzatiyah. Nah, oleh karena itu di artikel kali ini saya akan sedikit membahas tentang tarbiyah dzatiyah.
Tarbiyah Dzatiyah ialah sejumlah sarana tarbiyah (pembinaan), yang diberikan orang Muslim, atau Muslimah, kepada dirinya, untuk membentuk keperibadian Islami yang sempurna di seluruh sisinya; ilmiah, iman, akhlak, sosial, dan lain sebagainya, dan naik tinggi ke tingkatan kesempurnaan sebagai manusia. Atau dengan kata lain, Tarbiyah Dzatiyah ialah tarbiyah seseorang terhadap diri sendiri dengan dirinya sendiri.
Oleh karena itu, tarbiyah dzatiyah berbeda dengan tarbiyah jama’iyah (kolektif) yang biasa dilakukan dengan bersama – sama dalam forum – forum umum, seperti ceramah/khutbah di masjid, kajian, dll.
Mengapa kita harus melakukan tarbiyah dzatiyah?
Melakukan Tarbiyah Dzatiyah menjadi hal yang sangat “urgent” bagi setiap muslim, terutama dalam kondisi zaman yang serba kacau balau saat ini, jelas hal ini akan menjadi hal yang sangat penting . Kenapa begitu?
1.   Untuk menjaga diri sendiri
Tarbiyah seorang Muslim terhadapmerupakan suatu upaya untuk melindungi dirinya dari siksa Allah ta’ala dan menghindari neraka-Nya. Tidak diragukan lagi, menjaga diri sendiri itu mesti lebih diutamakan, daripada menjaga orang lain.  Hakikat ini di tegaskan dalam firman Allah ta’ala,
      “Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya
       adalah manusia dan batu.” (At-Tahrim: 6).
      Arti menjaga diri dari api neraka, seperti dikatakan Ibnu Sa’di rahimahullah, ialah dengan mewajibkannya diri mengerjakan perintah Allah ta’ala, menjauhi larangan-Nya, bertaubat dari apa saja yang dimurkai-Nya dan mendatangkan siksa.
       Inilah makna Tarbiyah Dzatiyah dan salah satu tujuannya.
2.   Jika Anda tidak Mentarbiyah  (Membina) Diri Anda, Siapa yang Mentarbiyah Anda?
      Siapa yang mentarbiyah seseorang saat ia berusia lima belas tahun, atau dua puluh tahun, atau tiga puluh tahun, atau lebih? Jika ia tidak mentarbiyah diri sendiri, siapa yang mentarbiyahnya? Atau jika tidak ada pihak lain yang mempengaruhinya? Sebab, kedua orang tuanya secar khusus, atau manusia secara umum berkeyakinan ia telah dewasa, lebih tahu apa yang mendatangkan maslahat bagi dirinya, atau mereka (orang tua dan manusia lainnya) sibuk dengan pekerjaan mereka, hingga tidak punya waktu untuk mengurusinya. Walhasil, jika ia tidak mentarbiyah diri sendiri, ia kehilangan waktu-waktu ketaatan dan moment-moment kebaikan. Hari dan umur terus bergulir, sedang ia gagal mengetahui titik lemah dirinya dan ketidak beresannya. Akibatnya, ia rugi saat kematian menjemput. Allah ta’ala berfirman,
     “(Ingatlah) hari Allah mengumpulkan kalian pada hari pengumpulan.” (At-Taghabun:9). 
3.  Karena pada yaumul mizan nanti kita dihisab sendiri – sendiri
Hisab pada Hari Kiamat oleh Allah ta’ala kepada hamba-hamba-Nya bersifat individual, bukan bersama – sama  (kolektif). Artinya setiap orang kelak dimintai pertanggungan jawab tentang diri dan sepak terjang – nya, baik perbuatan baik atau buruknya, kendati ia mengklaim orang lain menjadi penyebab kesesatan dan penyimpangannya. Kendati ada klaim seperti itu, mereka wajib dihisab bersama dirinya.
     Allah ta’ala berfirman,    “Dan setiap mereka datang kepada Allah pada Hari Kiamat dengan sendiri-sendiri.” (Maryam:95)       
Allah ta’ala berfirman, “Dan setiap manusia telah Kami tetapkan amal perbuatannya di lehernya dan Kami keluarkan baginya       pada Hari Kiamat kitab yang dijumpainya terbuka. Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada wa-       ktu ini sebagai penghisab terhadapmu.” (Al-Isra’ : 13-14)
Disebutkan di hadist bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,      “Setiap orang dari kalian pasti diajak bicara Tuhannya, tanpa penerjemah antara dirinya dengan-Nya.”      (Muttafaq Alaih).
Karena itu, barangsiapa mentarbiyah dirinya, insya Allah, hisabnya diringankan dan ia selamat dari siksa, dengan rahmat Allah ta’ala.
4.   Tarbiyah Dzatiyah itu Lebih Mampu Memberikan Perubahan yang Berarti
      Setiap orang pasti punya aib, atau kekurangan, atau melakukan kelalaian dan maksiat, baik maksiat kecil atau dosa. Jika masalahnya seperti itu, ia perlu memperbaiki seluruh sisi negatif pada dirinya sejak awal, sebelum sisi negatif tersebut membengkak. Dan, seseorang tidak dapat meluruskan kesalahan-kesalahannya, atau memperbaiki aib-aibnya, dengan sempurna dan permanen, jika ia tidak melakukan upaya perbaikan ini, dengan Tarbiyah Dzatiyah, karena ia lebih tahu diri sendiri dan rahasianya. Jika ia menginginkan pembinaan dirinya, ia juga lebih mampu mengendalikan dirinya menuju manhaj tertentu, perilaku utama, dan gerakan yang bermanfaat.
5.   Tarbiyah Dzatiyah adalah Sarana Tsabat (Tegar) dan Istiqamah
      Setelah bimbingan Allah ta’ala, Tarbiyah Dzatiyah adalah sarana pertama, yang membuat orang Muslim mampu tsabat (tegar) di atas jalan iman dan petunjuk, hingga akhir kehidupannya. Tarbiyah Dzatiyah juga garis pertahanan terdepan dalam melawan beragam fitnah dan bujuk rayu, yang menyerang orang Muslim pada zaman dewasa ini dan membujuknya dengan deras untuk menyimpang, gugur (dari jalan dakwah), loyo, malas, merasa takut akan masa depan, dan putus asa akan realitas sekarang. Di aspek ini, perumpamaan arbiyah Dzatiyah ialah seperti phon, yang jika akar-akarnya menancap kuat di bumi, maka pohon tersebut tetap kokoh, kendati terkena angin dan badai.
6.   Sarana Dakwah yang Paling Kuat
      Esensinya, setiap orang Muslim dan Muslimah adalah dai ke jalan Allah ta’ala.ia memperbaiki kondisi yang ada, mengajar, memberi taujih (arahan), dan mentarbiyah. Agar ia diterima manusia, baik sanak kerabatnya atau orang-orang yang jauh darinya, dan mempunyai kekuatan melakukan perbaikan dan perubahan di kehidupan mereka, ia perlu bekal kuat. Dan, cara efektif untuk mendakwahi mereka dan mendapatkan respon mereka ialah ia menjadi qudwah (panutan) yang baik dan teladan istimewa, di aspek iman, ilmu, dan akhlaknya. Qudwah tinggi dan pengaruh kuat tersebut tidak dapat di bentuk oleh sekian khutbah dan ceramah saja. Namun, dibentuk oleh Tarbiyah Dzatiyah yang benar.
7.   Cara yang Benar dalam Memperbaiki Realitas yang Ada
      Adakah di antara kaum Muslimin yang tidak merasa prihatin dengan kondisi yang ada pada umat Islam, di berbagai aspek kehidupan mereka, baik aspek keagamaan, atau ekonomi, atau politik, atau pers, atau sosial, atau aspek-aspek lainnya? Jawabnya, tentu tidak ada. Tapi, bagaimana kiat memperbaiki realitas pahit yang dialamiumat kita sekarang? Apa langkah efektif untuk melakukan perbaikan? Dengan ringkas, langkah tersebut dimulai dengan Tarbiyah Dzatiyah, yang dilakukan setiap orang dengan dirinya, dengan maksimal, syumul (universal), dan seimbang. Sebab, jika setiap individu baik, baik pula keluarga, dengan izin Allah ta’al. Lalu, dengan sendirinya, masyarakat jadi baik. Begitulah, pada akhirnya realitas umat menjadi baik secara total, sedikit demi sedikit.
8.   Karena Keistimewaan Tarbiyah Dzatiyah
Urgensi Tarbiyah Dzatiyah lainnya ialah mudah diaplikasikan, sarana-sarananya banyak, dan ada terus pada orang Muslim di setiap waktu, kondisi, dan tempat, seperti akan dijelaskan kemudian. Ini berbeda dengan Tarbiyah Ammah (pembinaan umum), yang punya waktu-waktu tertentu, atau tempat-tempat khusus.

0 comments:

Post a Comment