03 December 2013

Hujaan.. Ya.. Hujaannn

Sore ini di salah satu sudut kota kembang, Bandung. Duduk sembari ditemani rintik – rintik hujan yang di bulan – bulan ini mulai rutin mengguyur kota perjuanganku ini. Semakin lama rintik – rintik hujan semakin deras turun, bergerombol menerkam apa saja yang ada di bawahnya. Keroyokan tak kenal ampun. Di luar sana orang – orang mulai berlari, tak hendak basah oleh hujan yang semakin deras. Mengamankan dirinya masing – masing. Ruko – ruko dan warung tenda di tepi jalan seketika berubah menjadi tempat berteduh yang paling nyaman. Mulai dari para gelandangan hingga para eksekutif pengendara motor yang apes tidak membawa jas hujan. Ya .. inilah fenomena yang acap kali berulang terjadi saat hujan mulai turun mengguyur bumi.
                Hujan…
                Ya… Selalu ibarat dua mata uang yang tak pernah benar dan tak pernah salah. Di satu sisi banyak yang mengumpat dan memaki turunnya hujan. Hujan membuat mereka terlambat datang ke kantor, ke sekolah, bertemu klien atau sekedar makan siang hingga telat menjemput tambatan hati. Namun di sisi lain, hujan menjadi hal yang paling ditunggu – tunggu oleh anak – anak pengojek payung, para penjual di warung – warung tenda di pinggir jalan atau para petani di kaki gunung sana.
                Hujaaann..
                Kadang ia membuat hati yang sedang kalut bertambah kalut. Membuat hati yang terluka menjadi semakin menganga. Membuat jiwa – jiwa galau semakin dalam masuk dalam relung kesedihannya. Namun terkadang ia membuat teduh jiwa – jiwa yang sedang sepi, menjadi sumber inspirasi otak – otak yang sedang putus asa dan kadang mengembangkan senyum pada wajah – wajah sendu.
                Ya hujan…

                Begitu malang nasibmu… Kadang kau dipuja.. Kadang kau di caci… Kadang kau dinanti.. namun kadang kedatanganmu dimaki… Namun satu yang pasti.. Kau selalu setia, menemani perjalanan hidup ini.. Entah kau dicaci atau kau dipuji…  

0 comments:

Post a Comment