18 December 2013

Sabar itu Kayak Makan Durian


Sabaarr…
Banyak yang bilang kalau kata ini kaya mata pisau yang punya dua sisi. Kenapa? Karena di satu sisi ia sangat mudah kita ucapkan terutama saat orang lain sedang mengalami kesulitan, tapi di lain waktu saat kita yang sedang mengalami kesulitan atau mendapat musibah kebanyakan dari kita suliiiitt banget buat menerapkan sabaar itu ya. Sabar itu buat saya ibarat durian, kalau dimulut rasanya manis, tapi kalau kita terkena sendiri rasanya sakit karena durinya itu loh.
Contohnya begini, ada seorang dokter yang setiap hari kerja di rumah sakit. Nah, hampir setiap hari dia menyaksikan pasien – pasiennya ada saja yang menghembuskan nafas terakhir. Entah itu karena kanker, penyakit jantung, stroke atau karena tumor. Kalau situasinya sudah begini, maka tugas dialah yang menenangkan keluarga pasien yang telah wafat. Menenangkan anak – anak yang kehilangan ayah mereka atau menenangkan sang istri yang tak siap untuk menjadi janda. Ya, ini memang tugasnya sebagai  dokter.
Tapi suatu hari, ternyata istrinya mengidap tumor otak. Parahnya lagi, tumor tersebut ternyata sudah besar dan sangat sulit untuk diangkat bahkan lewat operasi sekalipun. Akhirnya setelah beberapa waktu istrinya wafat karena tumor tersebut sudah tak bisa dibendung lagi. Kira – kira apa yang dialami sang dokter?
Ia depresi, berhari – hari ia mengurung dirinya di dalam kamar. Berhari – hari ia hanya makan mie instan #miripsayadikosan. Berhari – hari ia tidak masuk kerja. Berhari – hari ia abaikan indahnya dunia. Kenapa? Karena ia tidak siap menerima realita dan takdir tuhan. Ia tidak siap kehilangan sesuatu yang sangat dicintainya. Ia tidak siap kehilangan belahan hati yang selama ini menemaninya.
Ya, kata – kata “sabar” yang dulu selalu ia berikan kepada pasien – pasiennya ternyata tak berefek pada dirinya sendiri. Ketika ia mengalami sendiri, realita ternyata lebih sulit untuk diterima da ternyata sabar itu lebih sulit dilaksanakan dan tak semudah ketika mengucapkannya.
Gimana sob? Pernah mengalami situasi seperti ini? Mungkin gag persis sih, cuma mirip – mirip lah. Contohnya saat gagal ujian, ada mata kuliah yang harus mengulang, skripsi yang belum jadi – jadi, bisnis yang gagal, atau diputusin pacar? Hehe.. masikah bisa sabar?
Jadi ingat kata – kata seorang ustadz, sabar itu hanya dimiliki oleh orang – orang yang terlatih. Ibarat karate, sabar itu bakal dimiliki kalau kita udah mencapai sabuk biru ke atasnya. Jadi kalau kita masih sabuk putih atau kuning pasti sulit buat menjalankannya. Sabar itu gag bicara soal kita kuat atau gag, kita pintar atau gag, tapi soal kemampuan menerima realita dan melakukan tindakan yang seharusnya kita lakukan. Jadi mari kita mulai berlatih dari saat ini. Berlatih buat jadi orang – orang yang bisa sabar, jadi orang yang selalu bersyukur dan menerima realita yang telah ditakdirkan oleh Allah SWT.  

0 comments:

Post a Comment